Karena Simama sudah berumah tangga, pilihan drama Korea yang
banyak berkisah tentang keluarga, pola asuh, dan sejenisnya menjadi daya tarik
tersendiri untuk diikuti. Alih-alih mencari penghiburan, model cerita dan
pelajaran yang tersaji dalam drama biasanya jadi tamparan tersendiri. Simama
bahkan bisa memperoleh pandangan baru tentang hidup, relationship, dan hal-hal krusial lain dengan menonton drama Korea.
Dari sekian banyak drama yang sudah pernah ditonton, Simama
mau mencoba merangkum kembali beberapa pesan sersirat maupun tersurat mengenai
gaya parenting di negeri Ginseng tersebut. Simama akan coba mengupas tentang upaya yang dilakukan
sebagian orang tua di dalam drama Korea. Dalam jangka panjang, upaya dan usaha
tersebut akan berefek pada sebuah karakter dan kepribadian seorang anak.
1.
Memaksakan
keinginan orang tua kepada anak sama saja menyimpan sebuah bom waktu.
Sky Castle menyajikan kisah awal tentang seorang anak yang
selalu dipaksa untuk berprestasi oleh sang ibu. Ia dilarang makan dan
beraktivitas lain jika belum belajar dengan maksimal. Ketika sakit, ia terus
dipaksa menyelesaikan beberapa tugas sekolah yang rumit. Dalam School 2013, ada
sekelumit cerita tentang sang ketua kelas yang memiliki ibu otoriter, selalu
memaksakan kehendak pada anak.
Bagaimana dampaknya? Anak tidak bahagia, anak sangat
terbebani dengan keinginan orang tuanya. Anak akan cemas dan gelisah ketika
mendapati nilai yang anjlok dan tidak sesuai harapan. Oleh karenanya, anak
cenderung lebih mudah depresi. Pengalihan dari depresi bisa dengan percobaan
bunuh diri atau justru “membalas dendam” kepada orang tuanya dengan bertindak
semaunya. Hal ini dikarenakan sang anak tidak diberi kesempatan untuk
menyalurkan apa yang menjadi hobi dan kebebasannya.
2.
Memberikan
cinta dan perhatian yang utuh merupakan hal paling dasar dalam pembentukan
perasaan aman dan diterima
Kisah dalam drama Mother mencuatkan sebuah pesan bahwa
seorang ibu yang sebenarnya adalah seseorang yang bisa memberikan rasa aman dan
percaya kepada sang anak. Ia akan mencurahkan segenap cintanya dn menjadikan
anak sebagai prioritas terdepan.
Dukungan moral dan material kepada anak merupakan salah satu
ciri hubungan keluarga harmonis yang semestinya dihadirkan dalam setiap rumah
tangga. Kisah dalam Reply Series, Another Miss Oh, My Id Gangnam Beauty bisa
dijadikan sebuah contoh mengenai kekuatan penuh dukungan orang tua kepada anak
yang bisa menjadikan mereka sebagai orang-orang yang peka, percaya diri, dan
bisa diandalkan.
Anak tak hanya butuh uang untuk hidupnya. Mereka akan lebih respect pada peran orang tua yang selalu ada dalam keseharian mereka. Anak2 akan lebih menghargai orang tua yang memberikan cinta dan kasih sayang yang utuh padanya. Hal ini dikarenakan jiwa anak2 masih membutuhkan tuntunan untuk menjalani kehidupannya.
Anak tak hanya butuh uang untuk hidupnya. Mereka akan lebih respect pada peran orang tua yang selalu ada dalam keseharian mereka. Anak2 akan lebih menghargai orang tua yang memberikan cinta dan kasih sayang yang utuh padanya. Hal ini dikarenakan jiwa anak2 masih membutuhkan tuntunan untuk menjalani kehidupannya.
3.
Orang
tua merupakan contoh paling dekat yang bisa ditiru oleh anak
Seorang anak merupakan peniru ulung. Mereka akan bertindak,
berperilaku, dan bertutur kata sesuai dengan keseharian yang mereka lihat dari
dalam rumah. Seorang ayah pembunuh akan berpotensi membuat sang anak penjadi
penjahat yang sama. Dalam drama Dr.Frost, Criminal Mind, Prosecutor Princess, Hello
Monster, terdapat beberapa scene yang
menayangkan bahwa “jiwa monster” yang tumbuh pada diri seseorang biasanya
dipicu dari kenangan atau trauma masa kecil mereka.
Tak jarang, anak-anak yang menjadi penjahat ini dulunya pernah
menyaksikan kejadian pembunuhan atau tindakan keji lainnya yang dilakukan oleh
orang terdekatnya seperti ibu, ayah, adik, atau kakak mereka. Sebuah kejadian
paling buruk akan membekas dalam memori alam bawah sadar, sehingga ketika ada
pemicu yang datang, tindakannya bisa di luar batas kewajaran.
4.
Jangan
membesarkan anak dengan kebohongan dan celaan
Menghadapi kelakuan anak yang kadang-kadang menguras emosi
memang cukup melelahkan. Tak jarang, sebagian orang tua menggunakan teknik
berbohong atau menakut-nakuti sang anak agar tindakan “usil” yang dilakukannya
bisa dihentikan. Berbohong merupan sebuah pondasi yang dibangun orang tua untuk
mencipatakan seorang anak pengecut dan suka menyalahkan orang lain. Drama
Phantom: Ghost memberikan gambaran singkat tentang seorang anak yang rela
melakukan segala cara untuk bisa menjadi nomor satu di kelasnya meskipun ia
harus membohongi teman-teman yang menjadi kompetitornya.
Tindakan kebohongan itu bahkan merenggut beberapa nyawa
berharga. Insiden ini menjadi sebuah kejadian yang mencoreng dunia pendidikan. Sang
anak yang melakukan tindakan tersebut bahkan merasa tidak bersalah dan
menganggap bahwa hal yang ia lakukan adalah demi kebaikannya. Ia ingin
membuktikan pada dunia bahwa dialah sang pemenang, ia tak mau diremehkan
terutama oleh orang tuanya.
Membesarkan anak adalah kewajiban orang tua yang harus
dipenuhi. Hak anak untuk mendapatkan pengasuhan terbaik akan membuatnya menjadi
pribadi yang utuh, merdeka dengan keinginan dalam kapasitasnya, serta selalu
bisa menjadi seseorang yang memberikan manfaat untuk sekitarnya.
Jika semua orang tua bisa lebih paham mengenai hal ini,
tentu tidak akan ada kejadian anak yang bunuh diri, anak yang melewati batas,
anak yang tidak tahu aturan, atau anak yang kegiatan hariannya selalu membuat
orang tua mengelus dada. Mari mulai berkaca, adakah gaya pengasuhan yang salah
selama membersamai ananda? Jika iya, segera benahi.
Bila orang tua adalah pribadi pembelajar, maka anak juga
akan mencontohnya dengan menjadi sosok yang mau berusaha belajar memperbaiki segala kekurangan yang
ada padanya. Siapa yang setuju?





Tidak ada komentar:
Posting Komentar