Minggu, 23 Februari 2025

Ulasan Film Jepang “Confessions”: Betapa Peran Ibu Sangat Penting! Keberadaannya Menjadi Kekuatan untuk Anak-Anaknya.

Ibu. Dia adalah salah satu sosok yang berperan besar dalam hidup seseorang. Tanpa ibu, kehadiran diri menjadi tak akan berarti. Betapa pentingnya peran ibu dikulik dengan cukup gelap dalam film Jepang berjudul Confessions. Di sini, saya akan membahas dari sudut pandang dari tiga sosok ibu yang dihadirkan dalam film bergenre thriller satu ini. Betapa sosok ibu adalah salah satu tiang penentu sebuah generasi, sehingga tindakannya akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak secara menyeluruh. Siap menyimak?


Identitas Film

Judul film : Confessions (Kokuhaku - Pengakuan)

Adaptasi : Novel Confession karya Kanae Minato

Pemain : Takako Matsu sebagai Yuko Moriguchi

Masaki Okada sebagai Yoshiteru Terada

Yoshino Kimura sebagai Yuko Shimomura

Yukito Nishii sebagai Shuya Watanabe

Kaoru Fujiwara sebagai Naoki Shimomura

Ai Hashimoto sebagai Mizuki Kitahara

Mana Ashida sebagai Manami Moriguchi

Durasi film : 106 menit - sekitar 1,5 jam

Tahun rilis : 2010



Sinopsis Film

Cerita dibuka dengan berpamitannya seorang guru, yakni Bu Moriguchi kepada murid-muridnya karena hendak mengundurkan diri. Pada mulanya, narasi sang guru tak terlalu diperhatikan muridnya, tetapi ruang kelas tiba-tiba senyap ketika sang guru menyinggung tentang kematian putrinya pada beberapa waktu sebelumnya. Bu Moriguchi mencurigai ada dua orang murid yang menjadi pemicu kematian anaknya di kolam renang sekolah. Hal itu karena Manami, putri sang guru, mendapati adanya dompet kecil berbentuk kelinci di sekitar lokasi kejadian, padahal seharusnya dompet itu tidak ada.


Ada dua murid yang dicurigai, murid A - Shuya Watanabe, dan murid B - Naoki Shimamura. Keduanya dianggap bersekongkol untuk membunuh Manami dengan cara yang tidak dapat dibayangkan oleh anak-anak seusia mereka, yakni siswa SMP.


Di sisi lain, jika memang pelakunya memang benar ada dalam kelas tersebut, mereka tak perlu khawatir akan dihukum karena masih di bawah umur. Ada UU Perlindungan Anak yang justru akan melindungi mereka sekalipun berbuat kejahatan, bahkan sampai kehilangan nyawa.

Dari kejadian tersebut, sang guru berusaha untuk memberi pelajaran kepada murid-muridnya untuk memberikan efek jera. Apa saja tindakan yang dilakukannya? Teman-teman perlu menonton sendiri untuk mendapatkan sensasi penasaran dan terkaget-kaget dengan twist yang ditawarkan dalam film ini.


Peran Ibu dalam Film Confessions

Alih-alih membahas alur, konflik, dan hal-hal yang membumbui film ini sehingga dapat menyabet banyak penghargaan, saya akan fokus mengulik tentang peran ibu yang menjadi akar konflik semua hal yang dilakukan anak-anak dalam cerita di dalamnya. Saya akan membahas tiga sosok ibu dalam film ini. Siapa saja?


Pertama, tokoh utama dalam film ini, Yuko Moriguchi.

Seorang ibu yang kehilangan anaknya tentu menjadi sosok yang sangat patah hati. Rasa cintanya pada Manami membuat semua cerita dalam film ini bergerak dengan sangat intens. Kecurigaannya pada beberapa hal terkait kematian anaknya membawanya pada satu fakta yang mengejutkan. Namun, hukuman untuk anak-anak di bawah umur tak bisa dilakukan mengingat UU Perlindungan Anak menjadi perisai atas kejahatan murid-muridnya.


Ia adalah definisi sosok ibu yang berupaya mencari keadilan, tetapi hukum yang menjadi penghambatnya. Oleh karena itu, dia melakukan tindak balas dendam dengan menguliti sisi psikologis murid-muridnya. Hal ini terkesan kejam, tetapi juga bisa dimengerti, mengingat para polisi tidak bisa memberikan hukuman setimpal pada pelaku yang menewaskan putri semata wayangnya.


Kedua, ibunda Naoki Shimomura.

Wanita yang menjadi sosok ibunda Shimomura adalah definisi ibu pelindung yang sesungguhnya. Jiwa malaikatnya cukup kuat, sehingga proteksinya kepada Shimomura tampak pada sepanjang cerita. Dia adalah tipikal ibu yang tak mau membuat susah anaknya, berusaha untuk memaksimalkan kasih sayangnya, meski justru terkesan berlebihan.


Shimomura yang merasa depresi setelah kejadian kematian Manami, memilih lebih sering mengurung diri di rumah, tidak mau bersekolah. Guru baru pengganti Bu Moriguchi sampai harus mendatangi rumahnya beberapa kali untuk membujuk. Namun, tidak menghasilkan apapun. Justru sikap ibunya malah membuat sang anak makin merasa terpojok dan disalahkan.


Ketiga, ibunda Shuya Watanabe.

Selain Naoki Shimamoru, Shuya Watanabe sebagai murid pintar di sekolah, terutama di kelas Bu Moriguchi juga menjadi sorotan tersendiri. Kehidupannya sebagai siswa yang sangat terobsesi pada sains menjadi poin penting yang jadi bagian alur dalam cerita di film ini. Rupanya, hal ini tak lepas dari peran sang ibu yang digambarkan sebagai sosok yang cerdas, sehingga gen kecerdasan itu menurun kepada anaknya.


Sayangnya, ibunda Watanabe memilih untuk meninggalkan anaknya demi meraih impiannya yang sempat tertunda karena menikah dan melahirkan. Wanita itu meninggalkan semua buku-buku ‘harta karun’ miliknya kepada sang anak, sehingga Watanabe benar-benar tumbuh jadi anak yang pintar, namun kosong hatinya. Dia berusaha untuk  berprestasi agar ibunya kembali. Dia berusaha menarik perhatian seluruh dunia, dengan maksud suatu saat ibunya pun akan melihatnya dari berita televisi atau koran. Sayangnya, semua usahanya itu justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Semuanya hanya berakhir dengan kesia-sian belaka.


Dari film ini, saya melihat sisi yang lain dari peran para ibu. Mungkin karena saya pribadi adalah seorang ibu, maka pemikiran tentang betapa pentingnya keberadaan ibu sebagai salah satu aspek yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak-anak yang tumbuh dengan cinta dari ibunya, tentu akan punya mindset yang baik tentang hidup. Berbeda dengan anak-anak yang tidak dipenuhi cinta dari ibunya, mereka limbung dan kehilangan arah dalam melangkah.


Keunggulan Cerita Confessions

Bagi saya pribadi, cerita Confessions ini merupakan cerita dengan kritik sosial yang sangat kentara, terkait dengan paradoks yang mengikat antara kejahatan anak di bawah umur yang berbenturan dengan UU Perlindungan Anak. Dalam sepanjang alurnya, cerita Confessions diramu dengan sangat apik, cinematografy yang tampak ‘gelap’, serta sound effect yang semakin membuat penonton akan merasakan ketidaknyamanan emosional ketika menyaksikannya. Tak heran bila film ini akhirnya meraup banyak penghargaan.


Confessions menjabarkan tentang cara balas dendam paling menyakitkan untuk pelaku kejahatan di bawah umur agar tidak bermain-main dengan nyawa seseorang. Serangan psikologis Bu Moriguchi benar-benar mengguncang jiwa dan perasaan Watanabe dan Shimamura tanpa harus ‘menyentuh’ mereka. Keren!


Closing Statement

Film adalah sarana berkarya dan mengekspresikan pemikiran. Dalam hal ini, pesan dalam film juga tak ubahnya pesan dalam buku yang disampaikan penulis. Film Confessions termasuk salah satu karya penceritaan berupa gambar bergerak yang tak hanya menampilkan sisi menghibur, melainkan juga pesan tersirat dan tersurat di dalamnya. Saya memutuskan menonton film ini setelah dapat rekomendasi dari beberapa teman pada beberapa waktu lalu. Setelah menyaksikannya, ada banyak kelebat terkait peran ibu, maka dari sanalah saya menulis ulasan ini.


Ada yang sudah nonton juga? Yuk sharing ke kolom komentar! []


Banjarnegara, 23 Februari 2025