Minggu, 24 Desember 2023

Representasi Tindak Bully dari Drama The King of Pigs

Mengangkat tema bully sebagai pondasi sajian cerita dalam drakor bukanlah hal yang baru. Sebelum menonton The King of Pigs, saya menemukan beberapa tema dan genre yang membahas tentang bully sebagai salah satu benang merah cerita, meski bukan tumpuan utama. 



Sebut saja series School (School 2013, School 2015, School 2017 hingga School 2021) sangat kental dengan nuansa "penindasan ala sekolah". Di tahun 2022 lalu, The Glory yang diperankan Song Hye Kyo juga menarik perhatian publik karena kisah bully di sekolah yang membuat sang tokoh berusaha membalas dendam dengan cantik.

Drama The King of Pigs ini juga memberikan gambaran tentang betapa gelapnya dunia pendidikan Korea Selatan yang banyak didominasi oleh bully-ing antar sesama siswa, bahkan juga oleh guru. Sesuai dengan beberapa kata ikonik yang tengah viral beberapa waktu terakhir bahwa “Lo punya duit, lo punya kuasa”, hal itu juga terbukti dengan keberadaan tokoh-tokoh di dalamnya.

Beberapa fakta menarik tentang bully-ing di sekolah, khususnya di Negeri Ginseng, rupanya tak hanya ada dalam drama. Bulan Juli lalu, kabar heboh dari dunia pendidikan Korea tentang seorang guru yang terpaksa harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena tak sanggup menengahi pelaku bully dan korbannya, menjadi bagian dari daftar panjang kelamnya pendidikan di Negeri Ginseng tersebut. 

Tak mengherankan, bila sineas di Korea cukup concern untuk bisa menyampaikan amanat baik dari beragam fakta yang terjadi di negara tersebut. Kemasan beritanya pun bervariasi, sehingga penonton pun akan lebih mudah untuk aware berdasarkan tontonan yang disajikan, termasuk dalam drama King of Pigs.

Apa saja hal-hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah bully-ing dalam drama yang menjadikan Kim Dong Wook sebagai pemeran utamanya tersebut? Berikut ulasan selengkapnya.

1. Tindak Bully dalam berbagai versi

Perundungan yang terjadi di Korea memang telah ada sejak dahulu kala. Namun, produksi drama dan film yang mengedepankan tindak bully memang tidak se-booming beberapa waktu terakhir. Era tahun 2013 ke bawah, produksi drama masih didominasi dengan kisah Cinderella Story dan romance komedi yang membuat terpingkal.

Perkembangan genre dalam drama Korea mulai punya banyak pilihan sejak pertengahan tahun 2014 mengusung thriller, detektif, horror, dan lainnya. Tema-tema tentang perundungan juga mulai dibuka, meski belum segamblang drakor The King of Pigs yang jadi pembahasan utama kali ini.

Dalam drama ini, penonton akan disuguhi beragam jenis perundungan di sekolah, mulai dari pelecehan seksual, bully-an secara verbal, hingga kekerasan. Di sekolah Hwang Kyung Min, sang tokoh utama, adalah sekolah setara SMP yang berada di salah satu kota di Korea. 

Di sekolah ini merupakan sekolah khusus laki-laki, sehingga tidak terdapat siswa perempuan di dalamnya. Namun, pelecehan seksual tetap terjadi ketika Hwang Kyung Min diminta untuk menunjukkan alat kelaminnya di toilet sekolah. Belum lagi, latar belakang siswa menjadi salah satu alasan bully merajalela di sekolah.

Terdapat 12 episode di dalamnya, pesan tersirat yang bisa diambil dari episode awal drama ini kurang lebih begini: jika kamu berasal dari keluarga ekonomi rendah, maka kamu akan jadi sasaran empuk perundungan. 

Betapa kelas ekonomi seseorang di Negeri Ginseng benar-benar menjadi strata paling nyata untuk menghindarkan diri dari perundungan. Jika kamu di-bully, maka sebaiknya tak turut campur untuk menengahi atau membela korban bully, karena kamu pun bisa menjadi sasaran bully selanjutnya.

2. Oknum Guru yang Tidak Melindungi Siswanya

Guru yang diharapkan bisa menjadi orang tua sambung di sekolah, tampaknya tak bisa banyak membantu. Jajaran guru di sekolah pun tak bisa berbuat banyak ketika para petinggi yang menjadi wali siswa telah “berbicara” melalui suap. Orang-orang besar yang memiliki kuasa lebih, rupanya dapat menyetir guru dan membiarkan putranya bertindak semena-mena di sekolah.

Oknum guru di sekolah tidak bisa melakukan pembelaan pada korban bully karena desakan dan tekanan dari berbagai pihak yang lebih berkuasa. Hal ini menjadi sebuah fakta yang tak bisa ditampik bahwa oknum guru di sekolah tidak dapat melindungi siswa yang lemah secara lebih bijak.

3. Balas Dendam ketika Dewasa

Masa sekolah yang dianggap sebagai “masa lemah” siswa, ternyata menyimpan luka bully yang begitu mendalam untuk korbannya. Dendam itu mengakar, sehingga memungkinkan korban bully untuk membalas dendamnya saat telah dewasa. Balas dendam yang dilakukan Hwang Kyung Min pun memang telah direncanakan secara detail dan terperinci.

4. Trauma yang Membekas pada Korban Bully

Tak dapat dipungkiri bahwa kasus bully dan pelecehan menjadi salah satu fenomena yang akan memberikan trauma mendalam untuk para korban. Pada level yang ringan, ingatan tentang bully ini akan kembali tertangkap jika ada pemicu yang datang. Pada level yang lebih berat, korban bully dan pelecehan dapat bertindak di luar nalar, hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan berbagai cara. 

Dalam drama ini, rasa trauma yang terjadi pada Hwang Kyung Min sebagai korban bully kawan-kawannya semasa SMP dikisahkan memiliki dampak psikologis yang cukup berat. Sang tokoh utama ini akhirnya memutuskan untuk membalas dendam dengan membunuh pembully-nya satu persatu saat ia telah dewasa, sehingga rasa kesumat dalam dirinya dapat tersalurkan.

Negara +62 sendiri termasuk ke dalam salah satu negara dengan tingkat bully tertinggi di dunia. Pada tahun 2022 lalu, saya mendapati fakta ini dari podcast yang digelar Deddy Corbuzier dan Cinta Laura yang membahas tentang pendidikan di negeri tercinta. Pembahasan tentang perundungan anak, tak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah, menjadikan bully-ing sebagai salah satu tindakan yang perlu diwaspadai bersama.

Kemerdekaan Indonesia telah menginjak tahun ke 78. Maka, seharusnya, kemerdekaan ini juga mencakup segala lini, termasuk merdeka dari rasa tidak nyaman dan penindasan di kalangan sekolah maupun lingkungan sehari-hari.

Menjadikan tontonan sebagai bahan tuntunan dan evaluasi para pemirsanya, tentu menjadi salah satu tujuan produksi film dan drama. Dengan hadirnya beberapa poin penting terkait bully dalam drama The King of Pigs, diharapkan bisa menjadi salah satu langkah kita untuk lebih mawas diri dan lebih memperhatikan lingkungan dengan lebih baik dari sebelumnya.

Apakah Anda sudah menonton drama ini? Jika belum, Anda bisa menjadikan drakor satu ini sebagai salah satu pilihan tontonan untuk mengisi akhir pekan.