Sabtu, 14 September 2019

Gaya Pola Asuh yang Bisa Dijadikan Pelajaran dari Drama Korea



Karena Simama sudah berumah tangga, pilihan drama Korea yang banyak berkisah tentang keluarga, pola asuh, dan sejenisnya menjadi daya tarik tersendiri untuk diikuti. Alih-alih mencari penghiburan, model cerita dan pelajaran yang tersaji dalam drama biasanya jadi tamparan tersendiri. Simama bahkan bisa memperoleh pandangan baru tentang hidup, relationship, dan hal-hal krusial lain dengan menonton drama Korea.

Dari sekian banyak drama yang sudah pernah ditonton, Simama mau mencoba merangkum kembali beberapa pesan sersirat maupun tersurat mengenai gaya parenting di negeri Ginseng tersebut. Simama akan  coba mengupas tentang upaya yang dilakukan sebagian orang tua di dalam drama Korea. Dalam jangka panjang, upaya dan usaha tersebut akan berefek pada sebuah karakter dan kepribadian seorang anak.

1.      Memaksakan keinginan orang tua kepada anak sama saja menyimpan sebuah bom waktu.





Sky Castle menyajikan kisah awal tentang seorang anak yang selalu dipaksa untuk berprestasi oleh sang ibu. Ia dilarang makan dan beraktivitas lain jika belum belajar dengan maksimal. Ketika sakit, ia terus dipaksa menyelesaikan beberapa tugas sekolah yang rumit. Dalam School 2013, ada sekelumit cerita tentang sang ketua kelas yang memiliki ibu otoriter, selalu memaksakan kehendak pada anak.




Bagaimana dampaknya? Anak tidak bahagia, anak sangat terbebani dengan keinginan orang tuanya. Anak akan cemas dan gelisah ketika mendapati nilai yang anjlok dan tidak sesuai harapan. Oleh karenanya, anak cenderung lebih mudah depresi. Pengalihan dari depresi bisa dengan percobaan bunuh diri atau justru “membalas dendam” kepada orang tuanya dengan bertindak semaunya. Hal ini dikarenakan sang anak tidak diberi kesempatan untuk menyalurkan apa yang menjadi hobi dan kebebasannya.

2.      Memberikan cinta dan perhatian yang utuh merupakan hal paling dasar dalam pembentukan perasaan aman dan diterima

Kisah dalam drama Mother mencuatkan sebuah pesan bahwa seorang ibu yang sebenarnya adalah seseorang yang bisa memberikan rasa aman dan percaya kepada sang anak. Ia akan mencurahkan segenap cintanya dn menjadikan anak sebagai prioritas terdepan.

Dukungan moral dan material kepada anak merupakan salah satu ciri hubungan keluarga harmonis yang semestinya dihadirkan dalam setiap rumah tangga. Kisah dalam Reply Series, Another Miss Oh, My Id Gangnam Beauty bisa dijadikan sebuah contoh mengenai kekuatan penuh dukungan orang tua kepada anak yang bisa menjadikan mereka sebagai orang-orang yang peka, percaya diri, dan bisa diandalkan.

Anak tak hanya butuh uang untuk hidupnya. Mereka akan lebih respect pada peran orang tua yang selalu ada dalam keseharian mereka. Anak2 akan lebih menghargai orang tua yang memberikan cinta dan kasih sayang yang utuh padanya. Hal ini dikarenakan jiwa anak2 masih membutuhkan tuntunan untuk menjalani kehidupannya.




3.      Orang tua merupakan contoh paling dekat yang bisa ditiru oleh anak

Seorang anak merupakan peniru ulung. Mereka akan bertindak, berperilaku, dan bertutur kata sesuai dengan keseharian yang mereka lihat dari dalam rumah. Seorang ayah pembunuh akan berpotensi membuat sang anak penjadi penjahat yang sama. Dalam drama Dr.Frost, Criminal Mind, Prosecutor Princess, Hello Monster, terdapat beberapa scene yang menayangkan bahwa “jiwa monster” yang tumbuh pada diri seseorang biasanya dipicu dari kenangan atau trauma masa kecil mereka.





Tak jarang, anak-anak yang menjadi penjahat ini dulunya pernah menyaksikan kejadian pembunuhan atau tindakan keji lainnya yang dilakukan oleh orang terdekatnya seperti ibu, ayah, adik, atau kakak mereka. Sebuah kejadian paling buruk akan membekas dalam memori alam bawah sadar, sehingga ketika ada pemicu yang datang, tindakannya bisa di luar batas kewajaran.

4.      Jangan membesarkan anak dengan kebohongan dan celaan

Menghadapi kelakuan anak yang kadang-kadang menguras emosi memang cukup melelahkan. Tak jarang, sebagian orang tua menggunakan teknik berbohong atau menakut-nakuti sang anak agar tindakan “usil” yang dilakukannya bisa dihentikan. Berbohong merupan sebuah pondasi yang dibangun orang tua untuk mencipatakan seorang anak pengecut dan suka menyalahkan orang lain. Drama Phantom: Ghost memberikan gambaran singkat tentang seorang anak yang rela melakukan segala cara untuk bisa menjadi nomor satu di kelasnya meskipun ia harus membohongi teman-teman yang menjadi kompetitornya.




Tindakan kebohongan itu bahkan merenggut beberapa nyawa berharga. Insiden ini menjadi sebuah kejadian yang mencoreng dunia pendidikan. Sang anak yang melakukan tindakan tersebut bahkan merasa tidak bersalah dan menganggap bahwa hal yang ia lakukan adalah demi kebaikannya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa dialah sang pemenang, ia tak mau diremehkan terutama oleh orang tuanya.

Membesarkan anak adalah kewajiban orang tua yang harus dipenuhi. Hak anak untuk mendapatkan pengasuhan terbaik akan membuatnya menjadi pribadi yang utuh, merdeka dengan keinginan dalam kapasitasnya, serta selalu bisa menjadi seseorang yang memberikan manfaat untuk sekitarnya.

Jika semua orang tua bisa lebih paham mengenai hal ini, tentu tidak akan ada kejadian anak yang bunuh diri, anak yang melewati batas, anak yang tidak tahu aturan, atau anak yang kegiatan hariannya selalu membuat orang tua mengelus dada. Mari mulai berkaca, adakah gaya pengasuhan yang salah selama membersamai ananda? Jika iya, segera benahi.

Bila orang tua adalah pribadi pembelajar, maka anak juga akan mencontohnya dengan menjadi sosok yang mau berusaha belajar memperbaiki segala kekurangan yang ada padanya. Siapa yang setuju?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar