Hampir setiap kali re-run drama milik Yoo Chun dan Han Ji
Min ini, Simama pasti ketawa ngakak. Terpingkal-pingkal pada penayangan
perdana. Kali pertama Simama nonton sewaktu dulu KKN, dapet dramanya dari teman
sekelompok. Malam-malam kami semua begadang di depan laptop masing-masing
nonton seri yang sama. Ya Rooftop Prince ini. Hahaha.
Pada episode pertama, kamu akan disuguhi cerita mengenai
seorang pengeran dan permaisuri dalam kerajaan terlihat harmonis, meskipun
sebenarnya sang ratu ini jahat gaes. Ia berhasil menjadi ratu karena semasa
kecilnya dulu dirinya merebut kursi adiknya yang dicalonkan sebagai permaisuri
kala itu.
Wajah adiknya disetrika, biar dia gagal maju jadi salah satu
calon. Pada zaman Joesoen, ratu dan permaisuri haram banget punya luka di tubuhnya.
Kudu mulus kempling bagus bak porselen. Makanya, si adik gagal maju, kemudian
sang kakak yang menggantikannya. Sang adik harus selalu menutupi wajahnya
karena luka di pipinya cukup buruk untuk diperlihatkan. Duh kejem!
Belum berhenti sampai di situ, sang permaisuri berencana
untuk membunuh pangeran. Eh justru sang ratu yang meninggal. Dalam pencarian untuk menemukan penyebab dan
pembunuh sang permaisuri, pangeran dan 3 pengawalnya malah terbawa ke dunia
masa depan. Mereka berempat terdampar di rumah Park Ha, seorang perempuan muda
yang kegiatan hariannya jadi tengkulak sayuran yang dikirimkan ke beberapa
pedagang langganannya di pasar.
Kalau kamu nonton drama ini bakalan ketawa ngakak deh. Mereka
super kebingungan dengan kondisi masa depan. Lihat rice cooker bunyi aja mereka
heboh, lihat tv kepencer ada adegan mau dipanah eh tvnya dibanting. Pokoknya ngakak
lah. Sampai akhirnya mereka mencari lokasi kerajaan mereka dahulu. Untuk zaman
sekarang lokasi itu sudah menjadi situs budaya, jadi mereka malah diusir dan
dibawa ke kantor polisi.
Di zaman sekarang ada seorang pemuda yang wajahnya mirip
banget sama sang raja. Udah beberapa waktu yang lalu mereka kehilangan sang
cucu waktu liburan ke luar negeri. Nah, suatu pagi Park Ha membawa keempatnya
untuk mengantar sayur di daerah pemukiman sang nenek. Pas banget dia berdiri di
depan rumah. Disuruh masuk deh. Semua orang kaget waktu melihatnya.
Sang Pangeran juga semakin kaget saat mengetahui ada wajah
yang sangat mirip dengan sang permaisuri di zaman ini. Jadi dia merasa senang
karena seolah-olah menyaksikan kembali istrinya yang meninggal meski di dunia
yang berbeda. Sang pangeran yang di zaman sekarang adalah cucu seorang
konglomerat yang memiliki perusahaan besar. Dibantu Park Ha, dia
bermetamorfosis menjadi sosok cucu yang hilang. Dengan mudah ia beradaptasi
dengan lingkungan zaman sekarang.
Konflik demi konflik mulai berdatangan, rasa suka pangeran
Lee Gak kepada Park Ha semakin jelas. Ditambah beberapa scene yang selalu
melibatkan keduanya bersama-sama. Selama beberapa episode berlangsung,
urat-urat syaraf yang tegang akan jadi lebih santai saat menonton drama ini.
Sesi ketawa-ketawanya dapet, sesi sedihnya dapet, rasa penasarannya terpuaskan,
dan conclution di akhir kisah juga
menjadi akhir yang indah.
Inilah drama pertama yang benar-benar membuat Simama jatuh
hati sama drama Korea hingga kini. Rating 9 dari 10 buat drama ini. Kalau kamu
belum sempat nonton, coba cari dulu deh dramanya. Seru banget! Kamu juga akan
menyaksikan kecilnya Kim So Hyun jadi sang kakak yang nyetrika adiknya. Sekarang
sudah semakin matang dalam berakting dan makin berkilau.
Cantik yaa
Simama bahas ini juga karena sedikit sedih dengan kasus
pelecehan seksual yang dilakukan Yoo Chun, ia bahkan sudah melakukan konfernsi
pers terkait kemundurannya di dunia entertainment selamanya. Simama yang
dikenalkan drama Korea lewat akting kerennya dalam drama Rooftop Prince ini
agak merasa patah hati. Terpotek-potek hati adek, Bang!
Meskipun begitu, Simama
tetap support segala hal baik yang menjadi keputusannya untuk masa yang akan
datang. Simama will miss you, Park Yoo Chun!
Betewe, siapa yang sudah nonton, cung! Scene mana aja yang
bikin kamu ngakak dan terpingkal-pingkal gaes? Diskusi ke kolom komentar yuk!









Tidak ada komentar:
Posting Komentar